
Pagi hari yang cerah mengiringi perjalanan Agung berangkat ke restoran, setelah sampai ia langsung masuk dan menyapa beberapa teman yang sudah tiba lebih dulu, pemuda itu lalu mengganti pakaiannya, setelah itu Agung mulai membersihkan meja dan menyapu lantai sambil bernyanyi dengan suara lirih.
‘’Ikut lomba nyanyi saja Gung, suara kamu lumayan bagus, lebih bagus lagi gak usah nyanyi bikin telingaku panas saja’’ celetuk Meli yang kebetulan lewat di dekat pemuda tersebut.
‘’Eh, kamu Mel, kenapa dengan suaraku Mel?, kamu gak suka yah?’’ balas Agung dengan menoleh dan menatap wajah wanita yang jutek itu.
‘’Iya aku gak suka?, puas kamu!?’’ Meli berjalan setelah mengatakan kata itu sambil memanyunkan bibirnya kepada pemuda yang sedang menyapu lantai tersebut.
‘’Yah malah pergi?’’ gerutu pemuda itu sambil memandangi kepergian wanita jutek itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, ‘’Meli..Meli..’’
‘’Hei Gung? Kenapa kemarin gak masuk kerja?’’ Mala datang menghampiri Agung dan mengatakan kata itu kepadanya.
‘’Eh Mala, bikin kaget saja kamu kirain nenek lampir itu lagi?’’ sahut Agung dengan menolehkan kepalanya, ‘’kemarin aku bangun kesiangan La, jadi gak berangkat deh’’ ucapnya lagi sambil memandangi wajah wanita yang sedang berdiri di belakangnya.
‘’Kirain kamu sakit?, resto ini sepi kalau gak ada kamu Gung’’ balas Mala dengan memberikan senyuman terbaiknya kepada pemuda tersebut.
‘’Masa sih La?’’ sahut Agung dan menghentikan menyapunya sambil membalikkan badan dan menatap kedua mata wanita tersebut.
‘’Iya Gung, bagiku kalau gak ada kamu resto ini terasa hampa walaupun banyak orang’’ jawab Mala dengan senyuman tipis membuat wajah ayu itu semakin cantik.
‘’Bisa aja kamu La? Masa gak ada aku saja terasa sepi, emang yang lain pada kemana?’’ pemuda itu berkata dan tangannya menepuk lengan wanita itu lalu tersenyum kepadanya.